Industri Kreatif dan Budaya Tipu-Tipu

Tulisan ini pertama kali terbit pada Meeting Room x Bebas Bermusik, Juni 2022.

Pada suatu zaman, apa yang kita kenal sebagai orang gila dianggap sebagai orang dengan tingkat spiritualitas tinggi. Lalu, pada awal era modern, orang-orang tersebut berubah menjadi orang yang tidak berguna. Orang yang dipinggirkan oleh masyarakat karena mereka tidak memberi dampak baik bagi pemajuan industri. Kini, orang-orang tersebut kembali diceritakan dengan nada berbeda. Kini, mereka menjadi orang-orang yang semestinya dibantu; bukan hanya dalam urusan kemanusiaan, melainkan juga bagaimanapun mereka membawa kapital (human capital) yang masih dapat untuk dieksploitasi jika keadaan mereka dapat diarahkan sesuai kebutuhan industri.

Kiranya ilustrasi tersebut dapat menggambarkan bagaimana wacana publik yang beredar dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap suatu permasalahan. Hal ini pula berlaku dalam diskursus kesenian. 

Pada masa perang, gagasan dadaisme hadir sebagai bentuk penolakan terhadap nilai-nilai modernitas yang dekat dengan elitisme dan borjuisme. Gagasan tersebut hadir menolak estetika modern; bagaimana standar kecantikan ditentukan oleh kelas eksklusif dan dianggap sebagai estetika semu. Beberapa bentuk barang yang diproduksi pada awal kemunculan gagasan ini meliputi kolase, montase, cut-up hingga penghadiran barang jadi (readymades). Laku yang pada mulanya adalah bentuk penolakan terhadap estetika dan seni, kini dengan gamblang dapat kita sebut aesthetic.

Di musik, kita mengenal Techno maupun House sebagai musik yang identik dengan klub, budaya eskapis dan hedonis kelas menengah dan atas. Meski pada mulanya, musik tersebut berakar dari kelompok marjinal: kulit hitam, coklat, dan gay. Pergeseran makna dalam praktik kebudayaan tersebut tentu bukan hal yang terjadi begitu saja. Ada blok historis yang melibatkan pewacanaan publik, yang jika kita telisik akan terlihat bagaimana kelas-kelas pengatur (ruling class) dapat kemudian menjalankan praktik hegemoni terhadap kebudayaan. Yang terjadi dalam skena musik techno dan house adalah bagaimana gentrifikasi terjadi melalui serangkaian praktik hegemoni oleh kelas yang lebih kuat dan mapan.

Proses pembangunan wacana publik terjadi secara dinamis, beriringan, dalam banyak lini. 

Setelah Pansy Division membuat cover lagu Nirvana, dan mengubah lirik serta judulnya menjadi Smells Like Queer Spirit, Curt Cobain tidak bergeming atas komentar-komentar yang mengatakan lirik lagunya menjadi terdengar begitu gay. Sikap ini tentu menjadi satu pandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan sikap band-band rock pada waktu itu. Ini merupakan langkah kuat dalam membangun wacana publik terkait permasalahan identitas dalam skena musik.

Dalam masyarakat pasca-industri, manufaktur berat tergeser dengan industri informasi dan produksi budaya. Ini berdampak pada pola konsumsi, dan tentu saja kepedulian masyarakat terhadap identitas. Jean Baudrillard, sosiolog Prancis, beranggapan bahwa pada era ini, nilai guna sudah tidak lagi berarti dan tergantikan oleh pertukaran. Jika kita mengacu pada nilai guna, untuk mendengarkan sebuah album, berlangganan Spotify selama sebulan tentu akan lebih efisien. Namun tidak demikian. Kita memilih untuk mendengarkannya dari piringan hitam karena itu menjadi lebih eksotis dan memiliki nilai prestise yang lebih tinggi. Inilah bagaimana industri ini terus mengembangkan ceruk-pasar, produksi gaya hidup, dan komoditas budaya. Ruang-ruang dalam industri ini terus menghadirkan imaji terhadap suatu produk agar menjadi lebih premium.

Namun demikian, di sisi lain, menjadi premium adalah keadaan yang secara objektif sulit untuk dideskripsikan. Ia memerlukan banyak variabel untuk dapat membentuk status dan massa. Pada titik inilah kelas penguasa "membunuh" massa dan mulai membentuk kelompok-kelompok yang lebih kecil dengan merumuskan nilai-nilai yang seragam, guna membangun pasar. Nilai tersebut diantaranya meliputi otonomi, otentisitas, sikap, dan asosiasi. Dari sini, kita dapat menyadari bahwa apa yang sebelumnya dijabarkan mengenai pergeseran makna dalam praktik kebudayaan, sebenarnya merupakan hasil komodifikasi dari sikap kontra budaya (counterculture).

Anak Keren Telah Mati, Pemuda Kabupaten Bilang Which Is, dan Interkonektivitas Telah Melampaui Segalanya

Menjadi keren memiliki hubungan yang kuat terhadap konsumsi; mengkonsumsi produk-produk keren, layanan dan pengalaman keren guna dapat menyuntikkan status keren dalam proyeksi identitas kita. Perjuangan untuk memperoleh status keren ini merupakan sebuah usaha legitimasi untuk mendapatkan "tanda tangan" di atas kertas melalui praktik yang dapat disetujui oleh audiens kalcer; kelompok kecil dengan rumusan nilai yang seragam.

Industri slow-fashion akan memberi kita pilihan untuk dapat mengenakan pakaian yang lebih ramah lingkungan dan lebih ramah terhadap pekerja garmen. Akan ada toko teh jika kita ingin menikmati teh "asli" lantas membicarakan mana teh putih, teh hitam, cara menyeduh, dan bagaimana rasanya. Akan ada toko yang menjual pakaian Naruto untuk kita melakukan cosplay dan menjadi keren.

Ketika pedagang membangun merek mereka tanpa syarat, beberapa lainnya membangun merek dengan niche

Berdasarkan kehendak bebas kita untuk dapat memperoleh pengakuan, kita akan terus berusaha memberitahu dunia tentang pilihan kita. Praktik-praktik inilah yang terus dan senantiasa menciptakan dunia dan budaya baru. Praktik ini mengartikulasikan representasi melalui bermacam simbol, membuat identitas makin terlihat terang, fragmen-fragmen kebudayaan baru muncul, dan akhirnya membunuh definisi kekerenan karena kaitan budaya dan estetika semakin acak dan aneh dan tak terduga.

Hingga pada suatu titik, praktek-praktek ini tidak lagi tentang modal, baik secara ekonomi maupun budaya, melainkan sebagai praktik kemanusiaan dan konektivitas kita sebagai manusia. Ketika anak desa yang bermain Tiktok berkomentar, "Gue sebel banget sama anak Jaksel" ini merupakan buah dari interkonektivitas yang akhirnya menciptakan dunia baru, dunia dalam hiperrealitas.

Anak-anak keren telah mati atau kita semua telah menjadi keren. Saat kita telah menentukan satu level, mengambil pilihan, dan bertindak berdasarkan itu, kita telah menjadi keren tanpa melalui jalan pintas. Dengan memilih, orang merayakan pendirian mereka. Bukan tentang kebenaran bahwa menghadiri konser The Drums secara moral lebih tinggi daripada joget dengan iringan Yeni Inka. Bagaimanapun ini semua berdiri di atas pondasi yang tidak pernah tokoh. Dalam spektrum budaya, satu lapisan mengalahkan lapisan yang lain. Jika kita berusaha untuk mempertahankan status quo, kita akan kalah tergerus dalam kebisingan.

Saat ini pencipta telah mati. Namun penebar gosip masih terus hidup. Secara kebudayaan, kita hidup pada masa di mana kita, audiens, yang memiliki kuasa terbesar atas interpretasi budaya, juga estetika, pun bayangan untuk menjadi keren. Jika besok kita melihat penipu itu mati, aku harap kita dapat menguburnya bersama-sama.

Opinion
December 29, 2022
0

Comments